MOTOBALAP.COM – Ada fakta menarik di balik penampilan Akbar Abud bersama SRC Reborn Pacitan pada gelaran JRS Kejurprov Putaran 5 di NP GOR Lembu Peteng, Tulungagung, Minggu (20/9).
Turun di kelas Bebek 2 Tak 125 cc Open dan Bebek 2 Tak 116 cc Open, Abud memang tidak sepenuhnya mendapatkan paket motor yang ideal. Karakter sirkuit yang cukup teknikal membuat tim harus bekerja ekstra, terutama dalam menentukan setting kaki-kaki dan rasio gir.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Salecong, mekanik sekaligus owner SRC Reborn Pacitan. Menurutnya, salah satu kendala utama yang dihadapi tim adalah proses setting shockbreaker.
“Hal pertama kita kesulitan untuk setting kaki-kaki motor, bagian shockbreaker utamanya. Karena ini event sehari jadi kita tidak datangkan ahlinya, seperti apa yang biasa kita lakukan untuk event Kejurnas yang notabene digelar dua hari balapan,” buka Salecong.
Dengan kondisi tersebut, Abud dituntut memaksimalkan paket yang tersedia. Meski begitu, pengalaman dan kemampuan pembalap nasional tersebut tetap mampu membawa performa motor berada di level kompetitif.

Hasilnya, Abud sukses menjadi yang terbaik di kelas Bebek 2 Tak 125 cc Open, sekaligus harus puas mengamankan runner-up pada kelas Bebek 2 Tak 116 cc Open.
Bukan hanya sektor kaki-kaki, tim juga harus melakukan penyesuaian pada bagian rasio gir. Salecong menjelaskan bahwa secara normal motor tersebut menggunakan kombinasi 13/44 untuk mendapatkan karakter tenaga yang maksimal.
Namun, kondisi lintasan Tulungagung membuat tim memilih melakukan improvisasi dengan menggunakan gir 13/42.
“Selain itu untuk settingan gir juga sempat alami kendala. Dengan settingan yang harusnya pakai 13/44, supaya tenaga motor maksimal. Untuk balap kemarin kita paksa improve pakai 13/42. Ini supaya putaran bawah motor jadi lebih lembut dan mudah dikendalikan,” terang Salecong.
Menurutnya, karakter sirkuit NP GOR Lembu Peteng membuat perpindahan gigi menjadi salah satu faktor penting. Bahkan, Abud disebut lebih banyak bermain hingga gigi tiga, sementara penggunaan gigi empat sangat minim.
“Selebihnya peran Abud sangat penting, karena untuk karakter sirkuit kemarin gir jadi mentok di 3, untuk gigi 4-nya hampir tidak terpakai,” imbuhnya.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana setting motor harus menyesuaikan karakter lintasan, bukan sekadar mengandalkan spesifikasi mesin. Bagi SRC Reborn Pacitan, penampilan di Tulungagung juga menjadi bahan evaluasi untuk mematangkan kembali settingan balap mereka pada agenda berikutnya.







